Minggu, 03 November 2013

Tidak Setuju Kaltim Jadi Ibu Kota RI


Wacana nasional untuk memindahkan Ibu Kota Negara Republik Indonesia dari Jakarta di Pulau Jawa, ke Pulau Kalimantan. Sudah sejak era Presiden RI pertama Ir. Sukarno, hingga pada Presiden Ke DR. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).  Tentu saja yang paling ramai mendapat tanggapan adalah wacana yang terlontar dari SBY. Berbagai macam komentar dan analisa di kemukakan, dan sebenarnya ternyata banyak yang "merindukan" untuk memindahkan Ibu Kota RI ini ke Kalimantan.

Di kalimantan sendiri tentu saja ramai juga tangapannya, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Selatan semua menyatakan siap untuk menjadi Ibu Kota Negara, atau pusat pemerintahan RI. Wacana lokal yang terbaru adalah pernyataan Gubernur Kaltim Awang Farouk Ishak, yang mengatakan bahwa Kaltim siap jadi Ibu Kota RI.

Dalam pernyataan di berbagai media lokal Kaltim seperti diturunkan http://www.tribunnews.com, Awang menyatakan bahwa Kaltim memiliki semua persyaratan yang dibutuhkan sebuah wilayah untuk menjadi Ibu Kota RI. Awang merincikan, bahwa Kaltim berada di daerah yang dekat dengan Timur Indonesia, saat ini memiliki dua pelabuhan peti kemas internasional yang ada di Kariangau dan Maloy. Pelabuhan peti kemas itu langsung melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II). Memiliki Bandara Intersional tersibuk ke 3 di Indonesia setelah Sukarno Hatta di Jakarta dan Ngurah Rai di Bali.
Banjir Di Samarinda

Demikianlah wacana itu di lontarkan Gubernur dengan mengatas namakan rakyatnya di Kaltim. Gubernur yang menang tipis terhadap pesaing terdekatnya pada Pilgub Kaltim 2013 di tengah tingginya angka Golput ini, sangat yakin bahwa kepindahan Ibu Kota RI Ke Kaltim akan membawa manfaat kepada rakyatnya. Tidak terpikir efek sosial dan berbagai persoalam kemasyarakatan komplek akan terjadi dan tidak terpikir untuk memberikan ruang perlindungan kepada warganya, melalui sebua Perda misalnya atau berbagai kebijakan yang berpihak pada warga Kaltim itu sendiri.

Saya sendiri sebagai warga Kaltim yang masih terbilang muda, tidak terlalu setuju terhadap pemindahan Ibu kota RI ke Kaltim meskipun hanya sebatas wacana saja.  Sebagai pemuda asli kalimantan saya melihat banyak ketertinggalan warga kaltim, terutama warga asli yang ternyata tidak siap atas persaingan. Skill warga asli tidak pernah diasah dan dilatih untuk bertahan dalam era persaingan modern.

Meski saat ini relatif anak anak mereka mampu bersaing, namun masih banyak yang akhirnya menyingkir ke pinggiran kampung dan hutan. Yang kemudian mereka menjual tanahnya pada perusahaan batu bara yang melakukan eksplorasi di hampir seluruh wilayah kaltim. Banyak yang kaya mendadak untuk kemudian jatuh miskin lagi beberapa tahun kemudian, dan ada yang tetap bertahan.

Namun apapun itu lebih baik Kaltim tidak ikut-ikutan buat menjadi ibu kota Negara, karena Kaltim yang ada saat ini jauh lebih baik dari pada jadi Ibu Kota. Biarlah Kalteng atau Palangkaraya yang menjadi ibu Kota RI atau tetap saja di Jakarta. Karena seperti juga Jakarta, Samarinda Ibu Kota Provinsi Kaltim, selalu di landa Banjir asalkan ada hujan lebat satu jam saja. Selain itu kubangan lumpur hampir selalu tidak pernah hilang di Samarinda. 

Apabila Ibu Kota Ri dipindahkan ke Kaltim meski tidak di Samarinda, tentunya akan terintegrasi dengan samarinda Balikpapan dan Tenggarong Serta Samboja dan Muara Jawa. Semua daerah ini sudah bolong bolong oleh tambang batu bara, Balikpapan meskipun tidak ada tambang wilayahnya cuma kawasan pantai yang sempit dengan perbukitan di barat dan utaranya, dan Balikpapan juga tidak bebas banjir. 

Tidak ada komentar: