Sabtu, 30 Maret 2013
Senin, 18 Februari 2013
Di Manakah Tempat
Di manakah
Tempat membawa berkah bagi hati patah
Bagi jiwa yang seakan menyerah, namun tetap dalam fight standing
Gundah yang susul menyusul
Berkejaran dengan rasa percaya dan tidak dipercaya
Di manakah
Tempat indah untuk pemimpi yang tertawa menutup luka
Tempat baginya untuk berkeluh kesah tanpa hilang percaya
Tanpa di kira sedang gembira tempat di mana ia
Dapat mengekpresikan isi hatinya dan berguling-guling mendekap dukanya
Tanpa dicela tanpa di kira pada sungai muka yang dangkal
Di manakah tempat ia bisa mengilang bersama angin, larut bersama pasir
Sedangkan bongkahan tajam itu telah menancapkan ia
Tak bergerak dan bergeming, semua ocehannya hanya larut
Namun ocehan itu tak cukup kuat menjadi bukti ia telah larut
Namun jika kamu dan kita semua menghendaki dia larut dan hilang kikis bersama angin
Percayalah padanya bahwa hatinya hanya untukmu, untukku, dan untuk perjalanan ini
Jangan cela hujan yang membuat banjir, jangan marahi awan yang menjadi hujan
Karena dia hanya sendiri, dan dia bahagia bila ditemani
Tetapi dia tetap saja sangat bahagia pada suara lirihmu
Tetap saja dia akan menitikkan air mata dan tidak akan beranjak dari tempat di hatimu
Walaupun segala yang kau lihat dengan mata fanamu, memberi bukti bagi hatimu
Tempatmu takkan terganti di hatinya
Dan dia akan selalu menunggumu menumpahkan lagi seluruh hatimu padanya
Karena untuk semua; di manakah tempat ia bisa lepas dari bayangmu
Selain dalam pelukan bayangmu itu sendiri....
Tempat membawa berkah bagi hati patah
Bagi jiwa yang seakan menyerah, namun tetap dalam fight standing
Gundah yang susul menyusul
Berkejaran dengan rasa percaya dan tidak dipercaya
Di manakah
Tempat indah untuk pemimpi yang tertawa menutup luka
Tempat baginya untuk berkeluh kesah tanpa hilang percaya
Tanpa di kira sedang gembira tempat di mana ia
Dapat mengekpresikan isi hatinya dan berguling-guling mendekap dukanya
Tanpa dicela tanpa di kira pada sungai muka yang dangkal
Di manakah tempat ia bisa mengilang bersama angin, larut bersama pasir
Sedangkan bongkahan tajam itu telah menancapkan ia
Tak bergerak dan bergeming, semua ocehannya hanya larut
Namun ocehan itu tak cukup kuat menjadi bukti ia telah larut
Namun jika kamu dan kita semua menghendaki dia larut dan hilang kikis bersama angin
Percayalah padanya bahwa hatinya hanya untukmu, untukku, dan untuk perjalanan ini
Jangan cela hujan yang membuat banjir, jangan marahi awan yang menjadi hujan
Karena dia hanya sendiri, dan dia bahagia bila ditemaniTetapi dia tetap saja sangat bahagia pada suara lirihmu
Tetap saja dia akan menitikkan air mata dan tidak akan beranjak dari tempat di hatimu
Walaupun segala yang kau lihat dengan mata fanamu, memberi bukti bagi hatimu
Tempatmu takkan terganti di hatinya
Dan dia akan selalu menunggumu menumpahkan lagi seluruh hatimu padanya
Karena untuk semua; di manakah tempat ia bisa lepas dari bayangmu
Selain dalam pelukan bayangmu itu sendiri....
Sabtu, 09 Februari 2013
Negeri Kelana Kutai Kartanegara
Sahabat, ketika sepi mendekapmu dan kau merasa sendiri
Janganlah risau di manapun kau berada selama masih berada di kaki langit
Karena kamu tidak sendiri ada aku di sini yang menanti
Kau datang dan mengobati risau hatiSahabat jika kekasihmu meninggalkanmu, maka jangan sedih Karena ada aku di sini di negeri kelana ini menantimu
Ada banyak tempat untukmu mengobar asa
Ada banyak keindahan untuk kamu hilangkan duka
Kita bisa bermain bersama di berbagai taman kotaku
Kita bisa menjelajah bukit dan lembah, menantang mentari
Kita bisa bermain di pantai, bermain diperbukitan
Dan kita bisa menikmati hembusan angin bersama luruhnya berbagai dedaunan
Sahabat, jika kamu merasa gundah dan hatimu resahMaka segera lah kamu berkelana ke negeri Kutai Kartanegara Karena di sini semua bisa berseri, sepanjang matahari terbit setiap hari MakMa tidak ada waktu untukmu bersedih di tempatku ini..
Selasa, 05 Februari 2013
Minggu, 20 Januari 2013
Kecewa Petugas Waduk Panji Sukarame
Kawanku oknum Petugas Pariwisata dan ekonomi kreatif Kabupaten Kutai Kartanegara, yang bertugas di waduk Panji Sukarame Tenggarong.
Sungguh aku kecewa pada kalian karena dirimu mengingatkan aku dengan kata-kata kasar dalam bahasa daerah yang kita sama – sama bahasakan karena kita satu tanah kelahiran
Teguranmu melalui pengeras suara ketika aku naik ke Tower, yang ternyata dilarang karena rapuh itu, semestinya dapat disampaikan dengan nada lembut seperti;
“Saudara pengunjung yang naik di atas tower kami harap segera turun karena membahayakan keselamatan saudara, ini teguran pertama apabila saudara tidak turun maka petugas kami akan menjemput saudara”
Dengan bahasa demikian saya kira saya jauh lebih mengerti dan akan segeran turun dari tower yang baru sekitar 3 tahun di bangun namun sudah tidak layak di naiki tersebut.
Tapi saudara langsung menegur dalam bahasa daerah yang kasar, yang berbunyi; “ Pengunjung yang berada di atas tower cepat turun, karena tower itu tidak layak, apabila mucil kami akan menurunkan secara paksa, dan siap tawar menawar karena pegadaian masih buka”
Arti dari kalimat itu : “pengunjungs yang ada di tower cepat turun, karena tower itu tidak layak apabila bandel kami akan menurunkan secara paksa, dan tawar menawar karena pegadaian masih buka”
Kata tawar menawar dalam bahasa daerah kutai itu banyak artinya bila diartika dalam kata kasar, maka ia menjadi seperti bahasa Betawi ; “Lo Jual Gua Beli” artinya mengajak berkelahi.
Menurut saya sudah saatnya Dinas Pariwisisata dan Perekonomian kreatif Kutai Kartanegara, melakukan pembenahan dengan memberikan pelatihan kepariwisataan terhadap petugas lapangan yang menjaga obyek-obyek pariwisata.Jangan lupakan pula kewajiban bagi mereka untuk tetap memakai seragamnya selama jam kerja meski itu di siang terik maupun sore hari.
Buat kawan petugas jangan lupa patroli ke setiap sudut waduk Panji Sukarame karena saya menemukan ada yang minum minuman keras dicampur minuman energy mestinya di lokasi pariwisata hal seperti ada tempatnya tersendiri.
Salam damai dan mari promosikan serta bangun odah etam dengan intelektualitas serta tunjukkan adat yang baik di tanah Kutai, karena wisatawan datang bukan karena kita pinta ngomong kasar tapi bagaimana kita menunjukkan adat istiadat serta bicara yang menyenangkan.
Keindahan Hidup
Sungguh aku ingin memaknai perjalanan hidup ini, dari segenggam kehampaan yang kemudian ditumpuk menjadi sebuah bayangan, dan memadat sebagai wujud. Mewujudkan sebuah mimpi indah dan melayang bersama angin, lalu hinggap di tanah basah yang menyegarkan.
Hidup memang lakonan yang harus dilakonkan, lantas kita mainkan dan kita menjadi lakon itu sendiri. Kita terkungkung dalam rutinitas yang itu saja, berjalan dalam lingkaran sejauh puluhan tahun, dan ingat! kita tidak pernah benar-benar berjalan melebihi seratus tahu.
Banyak yang berpikir bahwa hidup adalah bagaimana segalanya serba ada, dan itu memaksa kita tidak dapat menikmatinya. Kita tidak akan shalat selama 5 waktu hingga seratus tahun, berpuasa hingga seratus ramadhan, kebaktian anda di gereja maupun meditasi anda di pura tidak akan mencapai 100 tahun..
Lalu apa yang kita kejar dalam hidup ini, yang ternyata detik demi detik selalu tidak pasti, dan yang pasti hanyalah mati! Sangat sayang ketika kita hanya sibuk pada relasi, sibuk dengan kerja yang tiada henti.
Padahal rumah mewah maupun gubug, mobil maupun becak. Ketika akhir hidup kita telah tiba semua sama kesakitan dan kepiluan, tangisan, dan berangkatlah kita ke tempat yang abadi, abadi karena kita tidak akan hidup kembali.
Kawanku, dan sayangku, ketika kalian membaca blog ini, cobalah mengingat kepada akhir hidup kalian. Dan jadikan ia cambuk untuk menikmati alam ciptaan yang kuasa ini, betapa indah dan besar ciptaannya atau kalau kamu atheis cobalah mengerti, bahwa alam ini berevolusi dalam sebuah keindahan.
Keindahan itu dapat kalian saksikan pada bunga-bunga yang mekar, kumbang dan aneka serangga yang berkilauan. Keindahan itu dapat kalian lihat dari teman kamu, saudara, orang tuan, dan kekasih kamu. Hargai keindahan itu dengan meluangkan waktumu untuk bersamanya dan mengaguminya betapa kamu akan merasakan obat dari segala sakit di hatimu.
Bagi kamu yang kuat dengan agama kamu, shalatlah, berbaktilah, dan bersemadilah pahami. Semua bentuk keindahan itu adalah sebuah kreasi baik secara ciptaan maupun ilmiah semua pulang pada hatimu masing-masing. Namun hendaknya kalian sadari bahwa kita hidup dengan semua kesadaran kita tidak akan sampai pada 100 tahun, karena itu nikmati hidupmu, kerjakan tugasmu tapi jangan korbankan hidupmu...(ariankula)
Langganan:
Postingan (Atom)















